« ..Pingsan (Lagi).. | Main | ..Amnesia dalam Mimpi?.. »

..Aku dan Jakartaku..

Kupijakkan kaki di bandara Soekarno-Hatta pagi itu. Masih terlalu pagi bagiku yang biasa melewatkan indah dan sehatnya sinar matahari pagi. Jam 8 lebih dikit, di pertengahan bulan kisaran 2008. Bangunan luas dengan sentuhan arsitektur Prancis itu tampak lengang. Ah, bukan aku aja yang biasa bangun siang, hehehe...

Perutku kroncongan, sepertinya ususku sudah berkontraksi, menggelepar-gelepar seperti cacing kepanasan. Aku lapar. Berangkat terlalu pagi membuatku tak sempat membuat sarapan, selain segelas teh hijau yang kuseruput dengan tergesa. Kuputuskan singgah ke sebuah restoran fastfood dengan maskot kakek beruban dan berkacamata.

Kupesan paket nasi yang paling simple, aku malas cuci tangan pagi2, hehehe...Ternyata seporsi nasi di hadapanku tidak begitu enak untuk disantap. Kupaksa masuk tuh beberapa sendok, biar keganjel, meskipun dikit. Ndilalah malah perutku mulek2 nggak karuan. Tahan...tahan...harus sampai tujuan dulu baru boleh kenapa-napa niy perut! Kutinggalkan sisa paket nasiku dan bergegas menyetop DAMRI.

Ini kali kedua aku tak dijemput siapa-siapa di bandara. Seperti biasa, DAMRI akan berputar-putar mengelilingi bandara hingga penumpang memenuhi kuota kursi yang tersedia. Di putaran terakhir, mesin DAMRI yang kutumpangi bermasalah. O'ow...penumpang kecewa, padahal udah penuh tuh! Puluhan penumpang, termasuk aku, turun dan pindah ke DAMRI yang lain.

# 1 DAMRI bermasalah.

DAMRI sukses membawaku ke tujuan. Ya, tujuan yang notabene tak pernah kutahu di mana sebenarnya.  Dari sana, menurut primbon dari seseorang, aku harus naik mikrolet dua kali. Panas sudah mulai menyengat, bercampur asap knalpot yang tampak pekat (sepertinya emisi kendaraan bermotor di Jakarta tak terjamah UU lingkungan hidup, cieee...sok tau!).

# Polusi udara yang OUCH!

Sudahlah, lupakan tentang mikrolet. Aku lebih memilih lekas sampai di tempat aku bisa duduk dengan nyaman. Dengan penuh keberanian, aku menawar ojek yang berjajar-jajar di sudut perempatan. Saking parnonya, aku berpegang pada satu tarif yang dikatakan primbon. Eh, si tukang ojek pertama bilang..."Aduh Neng, kalau segitu mah berangkat sendiri aja!" (GUBRAK!).

# Culasnya Abang tukang ojek.

Akhirnya toh tetap kusepakati tarif di luar primbon. Setelah tiba di tempat tujuan, barulah kusadari kalau tukang ojek tadi membawaku berputar-putar. Ah jalanan di Jakarta kini sudah tak mampu disesuaikan dengan ingatan masa kecilku. Hiks...bodohnya, aku ditipu. Kebodohanku ini dipertegas oleh seorang teman yang kutemui di tempat tujuanku. "Jalannya deket kok bayar dua kali lipat?" (GLODAK!)

# Aku ditipu Abang tukang ojek.

Jakarta-ku dulu tak begini. Makin lama ternyata makin sangar aja. Tak kututup mata, memang banyak peluang dan tantangan untuk berkembang di sana. Namun, memutuskan kembali ke sana bukan hal yang mudah. Papa memang di sana, tapi hatiku di sini. Entahlah, mengapa kami tak terlalu melirikmu kini? Though, banyak sekali kenangan yang kupatri bersama orang-orang tersayang selama di sana.

Aku dan Jakartaku, akankah kita kembali bersahabat?

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .